Alasan Ritel Sering Nyangkut di Saham IPO

Dipublikasikan pada 16 Jan 2025 16:07 | Publikasi oleh SW. Razak
Alasan Ritel Sering Nyangkut di Saham IPO

Ritel sering terjebak atau nyangkut di saham IPO karena mereka hanya mengejar keuntungan instan tanpa memahami kondisi perusahaan. Fenomena ini terjadi karena banyak investor individu hanya mengandalkan sentimen pasar dan rekomendasi media sosial daripada analisis laporan keuangan yang mendalam,,. Strategi spekulasi yang sering disebut sebagai IPO Hunter ini membuat ritel membeli saham saat harga sudah melambung tinggi. Faktanya banyak dari saham tersebut justru mengalami penurunan tajam setelah beberapa hari melantai di bursa hingga membuat modal investor ritel tertahan dalam waktu lama.

Lonjakan Investor dan Gelombang IPO di Indonesia

Pasar modal Indonesia sedang mengalami pertumbuhan yang sangat pesat dalam beberapa tahun terakhir. Berdasarkan data dari Bursa Efek Indonesia terdapat peningkatan jumlah perusahaan yang melakukan Initial Public Offering atau IPO. IPO adalah proses sebuah perusahaan menjual sahamnya kepada masyarakat umum untuk pertama kali agar bisa mendapatkan modal tambahan.

Pada tahun 2020 tercatat ada 50 perusahaan yang melantai di bursa saham. Angka ini terus naik menjadi 51 perusahaan pada 2021 dan 56 perusahaan pada 2022. Lonjakan rill terjadi pada tahun 2023 dengan jumlah 78 perusahaan yang melakukan IPO atau meningkat sebesar 39,8 persen.

Tren kenaikan ini sejalan dengan jumlah investor ritel yang bertumbuh secara masif. Peneliti Ghifary Alfarisy dari Universitas Telkom mencatat bahwa pada tahun 2020 jumlah investor hanya sekitar 1,6 juta orang. Namun pada tahun 2021 angka tersebut melonjak dua kali lipat menjadi 3,4 juta investor. Pertumbuhan rill terus berlanjut hingga mencapai 5,2 juta investor pada tahun 2023. Minat masyarakat yang besar ini mencerminkan optimisme tinggi terhadap investasi saham di tanah air.

Mengapa Harga Saham IPO Sering Naik Lalu Anjlok?

Salah satu daya tarik utama saham IPO adalah fenomena Underpricing. Underpricing adalah kondisi ketika harga saham di pasar perdana ditetapkan lebih rendah daripada harga penutupan di hari pertama perdagangan bursa,.

Hasil penelitian Bastanta Pelawi menunjukkan bahwa tingkat underpricing rata-rata di Indonesia mencapai 39,65 persen dalam satu dekade terakhir. Angka ini sangat tinggi dan mencerminkan adanya ketidakpastian informasi di pasar. Kondisi ini sering kali memberikan keuntungan cepat bagi investor yang mendapatkan jatah saham sejak awal.

Namun kesuksesan jangka pendek ini sering kali menjadi jebakan. Head of Research Sucor Sekuritas Adrianus Bias menjelaskan bahwa harga saham sering turun setelah IPO karena adanya aksi Profit Taking atau ambil untung. Profit taking adalah tindakan investor menjual sahamnya setelah harga naik untuk merealisasikan keuntungan rill.

Para investor yang sudah memiliki saham sejak harga awal akan berbondong-bondong menjual koleksinya saat harga mencapai titik tinggi. Akibatnya pasokan saham di pasar menjadi sangat banyak sementara pembeli mulai berkurang hingga harga akhirnya jatuh atau nyungsep. Saham biasanya akan mulai menemukan titik keseimbangan atau harga wajar dalam waktu tiga hingga enam bulan setelah listing.

Analisis Penyebab Ritel Sering Nyangkut

Berdasarkan dokumen yang dianalisis terdapat beberapa alasan mendasar mengapa investor ritel sering menjadi pihak yang paling dirugikan saat harga saham IPO jatuh.

1. Perilaku FOMO dan Mengabaikan Fundamental

Banyak investor muda berusia di bawah 30 tahun saat ini sangat terpapar oleh konten media sosial. Mereka sering terjebak dalam perilaku FOMO atau Fear of Missing Out yang merupakan rasa takut ketinggalan tren yang sedang ramai,.

Ketua LP3M INVESTA Hari Prabowo mengamati bahwa ritel sering kali mengabaikan analisis fundamental demi mengadu keberuntungan. Analisis fundamental adalah metode menilai kesehatan perusahaan berdasarkan laporan keuangan dan prospek bisnis rill. Ritel sering kali "mengejar layang-layang putus" dengan cara membeli saham yang harganya sudah naik sangat tinggi dengan harapan harga akan terus naik. Padahal saat itulah investor besar justru mulai menjual saham mereka kepada ritel.

2. Keterbatasan Informasi atau Asimetri Informasi

Dalam dunia investasi dikenal istilah Asimetri Informasi atau ketidakseimbangan pengetahuan antara pihak perusahaan dan investor luar,. Perusahaan tentu lebih mengetahui kondisi internal mereka daripada investor ritel.

Hasil penelitian Andreas Patimbo Sidabutar dari Universitas Sam Ratulangi menyebutkan bahwa efisiensi pasar perdana di Indonesia masih belum optimal. Investor ritel memiliki keterbatasan akses terhadap informasi rill mengenai kualitas emiten. Kondisi ini membuat ritel sering membeli saham berdasarkan "cerita" yang dibangun daripada fakta keuangan yang ada.

3. Peran Bandar dan Penjatahan Saham

Ada "rahasia umum" dalam pasar saham bahwa kenaikan harga saham IPO sering kali dipicu oleh pihak tertentu yang sering disebut sebagai Bandar,. Bandar adalah pihak dengan modal besar yang mampu menggerakkan harga saham.

Hari Prabowo menjelaskan bahwa saat IPO ritel sering kali hanya diberikan jatah saham yang sangat sedikit. Mayoritas saham dikuasai oleh pihak tertentu yang kemudian dengan mudah mengangkat harga naik setinggi mungkin. Saat ritel mulai tertarik untuk masuk kembali dan membeli dalam jumlah besar di pasar sekunder bandar kemudian melepas saham mereka dan mengambil keuntungan besar. Faktanya jumlah saham yang didapat ritel saat penjatahan awal sering tidak sebanding dengan modal yang mereka keluarkan.

4. Pengaruh Influencer Media Sosial

Sosok Social Media Influencer memiliki peran besar dalam menggerakkan minat investasi generasi muda,. Seorang influencer adalah individu yang punya banyak pengikut di media sosial dan bisa memengaruhi pendapat orang lain.

Penelitian Daffa Al Faros dari Politeknik Negeri Jakarta menemukan bahwa influencer berpengaruh positif dan signifikan terhadap minat investasi saham IPO. Masalah muncul ketika ritel hanya mengikuti rekomendasi influencer tanpa melakukan filter informasi. Banyak investor baru yang tidak punya kemampuan analisis teknikal maupun fundamental akhirnya hanya bergantung pada omongan influencer tersebut. Faktanya banyak influencer bukan merupakan penasihat investasi resmi yang terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan atau OJK.

Studi Kasus Fenomena Saham Nyangkut

Beberapa kasus rill menunjukkan betapa berisikonya spekulasi di saham IPO tanpa pertimbangan matang.

Kasus Saham LUCY (Lucy in the Sky)

Saham pengelola bar dan restoran ini sempat menjadi pembicaraan hangat saat melantai di bursa. Harganya sempat menyentuh batas Auto Rejection Atas atau ARA. ARA adalah batas maksimal kenaikan harga saham dalam satu hari perdagangan di bursa.

Namun kenaikan tersebut tidak bertahan lama. Harga saham LUCY kemudian anjlok hingga berada di bawah level Rp50 per lembar saham atau yang sering disebut sebagai harga Gocap. Gocap adalah istilah pasar untuk harga saham terendah di papan utama atau pengembangan yaitu 50 rupiah. Investor ritel yang membeli di harga tinggi saat euforia tentu akan mengalami kerugian rill yang sangat besar.

Kasus Saham KAQI (Jantra Grupo Indonesia)

Kasus KAQI pada bulan Maret 2025 menjadi pengingat keras bagi para investor ritel. Saham ini mencetak rekor sebagai salah satu saham IPO tercepat yang harganya menyentuh level gocap. Hanya dalam waktu 11 hari saja harga saham KAQI sudah terkunci di harga Rp50 dari harga penawaran awal Rp118.

Banyak investor ritel dalam komunitas Stockbit merasa terjebak dan mengalami kerugian hingga puluhan persen dalam waktu singkat. Mereka mengikuti IPO ini karena tergiur oleh konten-konten influencer yang membahas keberhasilan saham IPO lain yang sempat naik ribuan persen. Faktanya ekspektasi mereka tidak sesuai dengan pergerakan harga rill di pasar.

Statistik Kerugian Jangka Panjang

Data dari Investabook menunjukkan fakta yang mencengangkan mengenai performa saham IPO. Dari 186 perusahaan yang melantai di bursa antara tahun 2018 hingga kuartal kedua 2021 sebanyak 47 persen atau hampir setengahnya memiliki harga yang lebih rendah daripada harga saat IPO. Bahkan sebanyak 29 perusahaan harganya terjun bebas hingga di bawah Rp55 per lembar saham. Ini membuktikan bahwa strategi membeli saham IPO dan menyimpannya dalam jangka panjang tanpa analisis fundamental yang kuat sangatlah berisiko,.

Struktur Modal Sebagai Indikator Penting

Dalam memilih saham IPO investor sering kali mengabaikan Struktur Modal. Struktur modal adalah komposisi pendanaan perusahaan yang membandingkan antara utang dan modal sendiri. Hal ini biasanya diukur dengan rasio Debt to Equity Ratio atau DER.

Penelitian Andreas Patimbo Sidabutar membuktikan bahwa variabel struktur modal (DER) berpengaruh signifikan terhadap tingkat underpricing,. Investor rill cenderung bereaksi negatif terhadap perusahaan dengan tingkat utang atau leverage yang terlalu tinggi.

Beban utang yang besar meningkatkan risiko keuangan perusahaan dan membuat investor khawatir akan kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban jangka panjangnya. Sebaliknya perusahaan dengan pengelolaan utang yang efektif justru menunjukkan sinyal kepercayaan kepada kreditur dan pasar. Faktanya perusahaan yang memiliki DER tinggi sering kali mengalami kenaikan harga yang lebih rendah saat hari pertama perdagangan karena investor lebih berhati-hati.

Solusi Taktis untuk Investor Ritel

Agar tidak terus-menerus menjadi korban dan "nyangkut" di saham IPO investor ritel perlu melakukan langkah-langkah nyata untuk melindungi modal mereka. Berikut adalah beberapa solusi taktis berdasarkan rekomendasi ahli dan hasil penelitian.

1. Wajib Membaca Prospektus

Jangan pernah membeli saham hanya karena mendengar kabar burung atau rekomendasi influencer. Anda harus membaca Prospektus perusahaan. Prospektus adalah dokumen resmi yang berisi informasi lengkap mengenai profil perusahaan, kinerja keuangan, dan rencana penggunaan dana hasil IPO. Perhatikan untuk apa dana IPO digunakan apakah untuk ekspansi bisnis rill atau hanya untuk membayar utang lama.

2. Cek Reputasi Underwriter

Perhatikan siapa yang menjadi Underwriter atau Penjamin Emisi dari perusahaan tersebut. Underwriter adalah perusahaan sekuritas yang membantu emiten dalam proses penjualan saham kepada publik.

Underwriter yang memiliki reputasi tinggi biasanya lebih selektif dalam memilih perusahaan yang akan mereka bawa ke bursa. Meskipun hasil penelitian Nico Adikusuma menyebutkan bahwa reputasi underwriter tidak selalu menjamin harga akan naik namun underwriter yang kredibel biasanya melakukan proses evaluasi atau due diligence yang lebih ketat,.

3. Bandingkan Valuasi dengan Sektor Sejenis

Sebelum memesan saham bandingkan harga penawaran tersebut dengan perusahaan lain yang sudah ada di bursa dalam sektor bisnis yang sama. Hal ini bertujuan untuk menilai apakah harga saham tersebut masih wajar atau sudah terlalu mahal. Investor ritel disarankan untuk fokus pada indikator fundamental seperti profitabilitas dan potensi pertumbuhan jangka panjang daripada sekadar mengikuti tren sesaat,.

4. Gunakan Strategi Pembatasan Modal

Otoritas Jasa Keuangan atau OJK sebenarnya telah berencana membatasi pembelian investor ritel maksimal Rp100 juta dalam sistem pemesanan elektronik. Tujuannya adalah untuk memperluas jangkauan investor agar kepemilikan saham tidak hanya menumpuk di segelintir orang. Sebagai investor ritel anda juga harus memiliki batasan modal sendiri dan tidak menggunakan seluruh uang atau "all in" pada satu saham IPO saja.

5. Tingkatkan Literasi Keuangan dan Kendalikan Emosi

Minat investasi harus dibarengi dengan literasi keuangan yang baik agar anda tidak mudah terjebak dalam fenomena FOMO,. Literasi keuangan adalah kemampuan individu untuk memahami dan mengelola keuangan dengan bijak termasuk mengenali risiko investasi,.

Anda harus belajar mengendalikan emosi seperti rasa serakah saat harga naik dan rasa takut yang berlebihan saat harga turun. Pelatihan mengenai psikologi investasi sangat penting agar anda tidak bertindak impulsif saat melihat fluktuasi harga saham rill di layar perdagangan.

6. Manfaatkan Sistem E-IPO Secara Bijak

Hadirnya sistem e-IPO atau Electronic Indonesia Public Offering memudahkan ritel untuk memesan saham secara langsung lewat internet,. Gunakan kemudahan akses ini untuk memantau minat publik terhadap suatu saham IPO sebelum memutuskan untuk membeli. Jika terjadi Under Subscribe atau pesanan yang tidak memenuhi target maka ada kemungkinan besar harga saham akan turun saat listing karena kurangnya minat pasar.

Kesimpulan 

Investasi di saham IPO rillnya menawarkan peluang keuntungan yang besar namun diiringi dengan risiko yang tidak kalah tinggi. Fenomena ritel yang sering nyangkut adalah akibat dari kombinasi kurangnya pengetahuan, pengaruh negatif media sosial, dan perilaku spekulatif tanpa analisis fundamental.

Dengan pertumbuhan jumlah investor yang mencapai angka 5,2 juta pada tahun 2023 pasar modal kita memiliki potensi yang sangat besar. Namun potensi ini hanya akan bermanfaat bagi masyarakat jika investor ritel mulai bertindak rasional dan berbasis data dalam setiap pengambilan keputusan. Jangan jadikan bursa saham sebagai tempat judi tetapi jadikanlah sebagai sarana pertumbuhan kekayaan jangka panjang melalui pemilihan perusahaan yang sehat dan prospektif. (*)

Penulis

Avatar

SW. Razak

Praktisi pasar modal dan forex dengan latar belakang kuat di analisis data selama 15 tahun. Mengembangkan dan mengeksekusi strategi investasi serta trading berbasis data, membangun model kuantitatif, melakukan backtesting, optimasi risiko, dan evaluasi performa portofolio secara disiplin.

Disclaimer

Konten ini disusun untuk knowladge. Setiap analisis atau opini yang disampaikan merupakan pandangan pribadi penulis berdasarkan referensi yang tersaji secara publik. Dapat di jadikan sebagai opini kedua sebelum memutuskan mengambil keputusan investasi. Namun tidak ada jaminan atas keakuratan atau hasil yang ditimbulkan. Anda tetap perlu melakukan riset independen sebelum mengambil keputusan investasi.