Ini Alasan Investasi Properti Mulai Menggeliat Lagi

Dipublikasikan pada 12 Jan 2025 09:46 | Publikasi oleh SW. Razak
Ini Alasan Investasi Properti Mulai Menggeliat Lagi

Pasar investasi saat ini sedang mencari pegangan yang rill di tengah ketidakpastian ekonomi global yang mencapai rekor tertinggi sejak tahun 1997. Banyak orang mulai memindahkan dana mereka dari aset digital yang fluktuatif kembali ke aset fisik yang bisa disentuh dan dilihat yakni properti. Alasan utama mengapa sektor ini mulai bangun dari tidurnya adalah kombinasi antara stabilitas nilai jangka panjang dan berbagai insentif fiskal dari pemerintah yang membuat kepemilikan hunian menjadi lebih terjangkau. Berdasarkan data dari Tasnim Property Syariah, properti menawarkan keuntungan rill berupa kenaikan harga tanah setiap tahun serta potensi pendapatan pasif dari hasil sewa yang tidak dimiliki oleh instrumen investasi lain. Di tahun 2025 ini, pasar properti Indonesia bukan sekadar bertahan melainkan menunjukkan tanda-tanda kebangkitan yang didukung oleh data riset perbankan dan konsultan properti internasional.

Mengapa 2025 Menjadi Titik Balik Properti

Fakta dari Survei Harga Properti Residensial yang dirilis Bank Indonesia menunjukkan bahwa Indeks Harga Properti Residensial atau IHPR pada kuartal pertama 2025 tumbuh sebesar 1,07 persen secara tahunan. Meskipun pertumbuhan ini terlihat moderat, ada lonjakan fakta yang menarik pada segmen rumah tipe kecil yang penjualannya meroket hingga 21,75 persen secara tahunan. Hal ini menandakan bahwa daya beli masyarakat pada level akar rumput masih sangat kuat terutama untuk kebutuhan hunian pertama. Indeks tersebut merupakan indikator yang mengukur perubahan harga jual rumah yang dibayar oleh pembeli di pasar primer.

Kekuatan pasar properti juga terlihat dari laporan Bank Indonesia mengenai total nilai kredit properti nasional yang menyentuh angka Rp 1.442,5 triliun pada Mei 2025 dengan pertumbuhan tahunan mencapai 5,9 persen. Dari angka tersebut, segmen Kredit Pemilikan Rumah atau KPR dan Kredit Pemilikan Apartemen atau KPA menjadi penopang utama dengan nilai Rp 816,5 triliun. KPR adalah fasilitas pinjaman dari bank untuk membeli atau memperbaiki rumah dengan jaminan properti itu sendiri. Tingginya angka ini membuktikan bahwa masyarakat masih memiliki kepercayaan tinggi untuk mengambil komitmen jangka panjang dalam kepemilikan aset rill.

Berdasarkan survei Knight Frank Indonesia dalam laporan Property Outlook 2025, para pelaku usaha tetap optimis meski dibayangi tantangan suku bunga. Mereka memprediksi bahwa subsektor industri, pusat data atau data center, dan pergudangan akan tumbuh sangat positif di tahun ini. Sektor hunian atau living sector tetap menjadi motor penggerak utama karena ragam kebutuhan yang semakin spesifik seperti tumbuhnya tren co-living atau konsep hunian berbagi di area perkotaan yang sangat menarik bagi generasi muda.

Dampak Masif IKN Nusantara terhadap Sektor Riil

Pembangunan Ibu Kota Negara atau IKN Nusantara di Kalimantan Timur menjadi salah satu faktor rill yang mengubah peta investasi properti di Indonesia. Proyek ambisius ini bukan hanya soal memindahkan pusat pemerintahan tetapi juga tentang pemerataan ekonomi secara nasional. Pembangunan infrastruktur rill seperti jalan, perumahan, dan perkantoran di sekitar IKN secara langsung mendorong permintaan properti di wilayah tersebut. Para pengembang besar kini mulai melirik Kalimantan Timur sebagai hot spot baru untuk investasi jangka panjang.

Permintaan akan hunian bagi staf pemerintahan, pekerja konstruksi, hingga tenaga profesional yang berpindah ke ibu kota baru diperkirakan akan terus meningkatkan harga lahan di sekitarnya. Fenomena ini menciptakan peluang rill bagi investor untuk melakukan diversifikasi portofolio ke luar Pulau Jawa yang sebelumnya tidak menjadi fokus utama. Diversifikasi adalah strategi menempatkan dana di berbagai jenis aset atau lokasi untuk mengurangi risiko kerugian total. Selain rumah tinggal, sektor komersial seperti hotel dan pusat perbelanjaan juga mulai tumbuh pesat untuk mendukung aktivitas ekonomi yang meningkat di kawasan IKN.

Kebijakan Pemerintah sebagai Katalis Pertumbuhan

Langkah pemerintah memberikan insentif PPN DTP atau Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah menjadi alasan rill lainnya mengapa pasar properti kembali bergairah. Kebijakan ini memberikan pembebasan pajak untuk pembelian rumah baru siap huni dengan harga maksimal Rp 5 miliar. Melalui Peraturan Menteri Keuangan Nomor 7 Tahun 2024, pemerintah menanggung 100 persen PPN untuk rumah dengan harga hingga Rp 2 miliar. PPN DTP adalah fasilitas di mana pembeli tidak perlu membayar pajak sebesar 11 persen karena kewajiban tersebut diambil alih oleh negara guna meningkatkan daya beli masyarakat.

Selain PPN DTP, wacana penghapusan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan atau BPHTB juga menjadi angin segar bagi industri ini. BPHTB adalah pajak yang dikenakan atas perolehan hak atas tanah dan atau bangunan yang biasanya dibayar oleh pembeli saat transaksi. Kebijakan-kebijakan fiskal seperti ini terbukti mampu menyerap stok perumahan yang sempat menumpuk dan mempercepat pemulihan sektor rill pascapandemi. Data dari laporan konsultan pajak menyebutkan bahwa intervensi ini diarahkan untuk mendukung pemulihan ekonomi nasional dan mengurangi angka backlog perumahan atau jumlah kekurangan kebutuhan rumah yang masih menjadi tantangan besar di Indonesia.

Properti sebagai Pelindung Nilai dari Inflasi

Dalam dunia investasi, properti sering dianggap sebagai pelindung nilai atau hedge terhadap inflasi. Inflasi adalah kondisi di mana harga barang dan jasa naik secara umum dan terus-menerus sehingga menurunkan daya beli uang. Penelitian dari Dr. R. Bindu yang diterbitkan di JETIR menjelaskan bahwa saat inflasi naik, nilai rill dari aset pendapatan tetap seperti deposito dan obligasi justru menyusut. Sebaliknya, real estat cenderung diuntungkan karena pemilik properti dapat menyesuaikan tarif sewa sesuai dengan kenaikan biaya hidup di pasar.

Logika rillnya adalah ketika biaya bahan bangunan dan upah tenaga kerja naik akibat inflasi maka harga properti baru juga akan naik. Hal ini secara otomatis mengangkat nilai properti lama yang sudah anda miliki. Hubungan positif antara real estat dan inflasi ini menjadikan properti sebagai tempat "parkir" uang yang aman saat ekonomi sedang bergejolak. investor yang jeli akan melihat bahwa menahan uang tunai dalam jumlah besar saat inflasi tinggi justru merupakan kerugian fakta karena daya beli uang tersebut akan terus berkurang.

Studi Kasus: Performa Pasar Jakarta dan Bali 2025

Jakarta tetap menunjukkan kekuatannya sebagai pusat bisnis utama di Indonesia. Laporan dari JLL per kuartal kedua 2025 menyebutkan bahwa ekonomi Jakarta tumbuh melampaui ekspektasi sebesar 5,12 persen secara tahunan. Di sektor komersial, gedung perkantoran Grade A masih mempertahankan momentum berkat permintaan dari sektor teknologi. Sementara itu, sektor logistik menunjukkan ketahanan yang rill dengan tingkat kekosongan atau vacancy rate yang membaik dari 10 persen menjadi hanya 6 persen. Vacancy rate adalah persentase unit atau area yang tidak terisi atau tidak disewakan dalam suatu properti dibandingkan dengan total unit yang ada.

Di sisi lain, Bali mencatat performa hotel yang luar biasa pascapulihnya pariwisata global. Kinerja perhotelan di Bali mencapai rekor RevPAR yang sangat tinggi dalam dua tahun terakhir. RevPAR atau Revenue Per Available Room adalah metrik kinerja yang dihitung dengan membagi total pendapatan kamar dengan jumlah kamar yang tersedia untuk dijual. Wisatawan mancanegara dari Australia, India, dan Tiongkok terus membanjiri Bali dengan pertumbuhan kunjungan dari Tiongkok mencapai 60 persen secara tahunan pada 2024. Meskipun ada tantangan berupa kemacetan infrastruktur di daerah Canggu, branding Bali sebagai ikon global tetap tidak tertandingi oleh destinasi domestik lainnya.

Munculnya Tren Properti Hijau dan Teknologi AI

Ke depan, konsep Green Property atau properti ramah lingkungan bukan lagi sekadar tren tetapi sudah menjadi syarat rill bagi investor global. Berdasarkan survei Knight Frank, sekitar 84 persen responden meyakini bahwa aspek keberlanjutan atau ESG akan menjadi faktor kunci dalam pengambilan keputusan investasi properti. ESG adalah singkatan dari Environmental, Social, and Governance yakni standar operasional perusahaan yang digunakan investor untuk menyaring potensi investasi yang bertanggung jawab. Properti yang mengutamakan efisiensi energi, pengelolaan air, dan pengurangan emisi karbon akan memiliki nilai tambah yang lebih kuat untuk menarik pembeli dan penyewa di masa depan.

Selain itu, teknologi Kecerdasan Buatan atau AI juga mulai memberikan dampak rill pada efisiensi pengelolaan aset. AI digunakan untuk mengotomatisasi analisis data pasar yang besar sehingga investor dapat membuat keputusan yang lebih akurat dan cepat. Digitalisasi ini membantu dalam pemasaran properti melalui platform seperti AESIA yang memungkinkan pemerintah daerah memasarkan aset mereka secara daring ke pasar yang lebih luas.

Solusi Taktis untuk Pembaca yang Ingin Mulai Berinvestasi

Setelah melihat fakta dan data rill di atas, ada beberapa solusi taktis yang bisa anda terapkan jika ingin terjun ke investasi properti tahun ini. Pertama, fokuslah pada segmen rumah tipe kecil dan menengah. Data Bank Indonesia menunjukkan bahwa permintaan di segmen ini tetap stabil dan memiliki risiko NPL yang lebih terkendali. NPL atau Non-Performing Loan adalah rasio kredit bermasalah yang menunjukkan kegagalan debitur dalam membayar cicilan sesuai jadwal. Dengan fokus pada rumah tipe kecil, anda menyasar pasar yang paling rill yakni orang-orang yang memang membutuhkan rumah untuk dihuni bukan sekadar spekulasi.

Kedua, manfaatkan fasilitas KPR selagi ada berbagai program bunga kompetitif dan insentif DP rendah. Dengan memanfaatkan kredit, anda bisa memiliki aset rill tanpa harus menghabiskan modal besar di muka. Namun, pastikan anda tetap memantau regulasi dan tren suku bunga Bank Indonesia yang diperkirakan akan tumbuh pada kisaran 8 sampai 11 persen hingga akhir 2025.

Ketiga, pilih lokasi di kota-kota berkembang atau tier-2 cities seperti Bogor, Tangerang, dan Bekasi yang menjanjikan potensi nilai tambah tinggi akibat konektivitas transportasi yang semakin baik. Jika anda memiliki modal lebih besar, mempertimbangkan lahan atau bangunan di sekitar kawasan buffer IKN Nusantara bisa menjadi langkah strategis untuk keuntungan jangka panjang.

Keempat, terapkan strategi diversifikasi aset. Jangan hanya terpaku pada rumah tinggal saja. Cobalah untuk mencampurkan portofolio anda dengan properti untuk sewa jangka pendek seperti vila di Bali atau ruko kecil di kawasan industri yang sedang berkembang. Diversifikasi ini penting untuk memitigasi risiko jika salah satu subsektor sedang mengalami perlambatan.

Kelima, perhatikan aspek legalitas dan kredibilitas pengembang. Pastikan properti yang anda beli memiliki sertifikat yang jelas dan dibangun oleh pengembang yang memiliki rekam jejak rill. Dalam kondisi pasar yang dinamis, kepastian regulasi dan hukum adalah pelindung utama bagi modal investasi anda.

Keenam, mulailah dengan skema yang ringan jika anda adalah investor pemula. Banyak pengembang saat ini menawarkan program Sewa-Beli atau Rent-to-Own yang memungkinkan anda mencoba tinggal dulu sebelum memutuskan untuk membeli secara penuh. Skema ini sangat membantu untuk melihat kualitas rill bangunan dan lingkungan sebelum melakukan komitmen finansial yang besar.

Investasi properti memang memerlukan ketelitian dan kesabaran tetapi data riset 2025 menunjukkan bahwa fundamental sektor ini sangat kokoh. Dengan adanya dukungan kebijakan pemerintah yang pro-rakyat, pembangunan infrastruktur nasional yang masif, serta peran properti sebagai benteng rill melawan inflasi maka tidak ada alasan fakta untuk ragu menjadikan properti sebagai pilar utama pertumbuhan kekayaan anda di masa depan. (*)

Penulis

Avatar

SW. Razak

Praktisi pasar modal dan forex dengan latar belakang kuat di analisis data selama 15 tahun. Mengembangkan dan mengeksekusi strategi investasi serta trading berbasis data, membangun model kuantitatif, melakukan backtesting, optimasi risiko, dan evaluasi performa portofolio secara disiplin.

Disclaimer

Konten ini disusun untuk knowladge. Setiap analisis atau opini yang disampaikan merupakan pandangan pribadi penulis berdasarkan referensi yang tersaji secara publik. Dapat di jadikan sebagai opini kedua sebelum memutuskan mengambil keputusan investasi. Namun tidak ada jaminan atas keakuratan atau hasil yang ditimbulkan. Anda tetap perlu melakukan riset independen sebelum mengambil keputusan investasi.