Ternyata Ini Narasi Transformasi Saham FITT dari Hotel ke Logistik Laut

Dipublikasikan pada 11 Feb 2026 11:47 | Publikasi oleh SW. Razak
Ternyata Ini Narasi Transformasi Saham FITT dari Hotel ke Logistik Laut

Pasar modal Indonesia tengah menyaksikan salah satu aksi korporasi paling drastis tahun ini. PT Hotel Fitra International Tbk (FITT), emiten yang selama bertahun-tahun identik dengan bisnis hotel bintang tiga di Majalengka, kini berganti wajah sepenuhnya. Di bawah kendali pengendali baru, PT Jinlong Resources Investment (JRI), FITT bukan lagi tentang okupansi kamar, melainkan tentang ambisi besar di jalur logistik pertambangan nikel dan batu kapur.

Langkah ini memicu gelombang spekulasi di kalangan trader dan investor. Harga saham FITT bahkan sempat terbang hingga 760,82% dalam periode tahun berjalan 2025, menyentuh level Rp835 sebelum akhirnya masuk ke dalam radar pengawasan ketat bursa melalui papan pemantauan khusus Full Call Auction (FCA). Saat ini, JRI tengah melaksanakan Penawaran Tender Wajib (Mandatory Tender Offer/MTO) di harga Rp296 per saham yang berlangsung sejak 5 Februari hingga 6 Maret 2026.

Siapa Jinlong dan Sosok Gao Jinliang?

Pihak yang menjadi motor penggerak transformasi ini adalah PT Jinlong Resources Investment, sebuah perusahaan holding yang berdomisili di kawasan Mega Kuningan, Jakarta. Namun, perhatian pasar sebenarnya tertuju pada sosok Gao Jinliang, Direktur sekaligus Ultimate Beneficial Owner (UBO) dari JRI.

Rekam jejak Gao Jinliang bukanlah nama sembarangan di industri hilirisasi mineral Indonesia. Ia tercatat pernah menjabat sebagai Direktur di Indonesia Huabao Industrial Park (IHIP) atau Baoshuo Taman Industry Investment Group (BTIIG), sebuah kawasan industri berbasis smelter nikel raksasa di Morowali, Sulawesi Tengah. Keterkaitannya dengan Grup Jianlong yang mengucurkan investasi triliunan rupiah di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sorong untuk industri baja mempertegas posisi Jinlong sebagai pemain strategis.

Manajemen FITT sendiri telah memberikan klarifikasi resmi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) bahwa Gao Jinliang tidak memiliki hubungan afiliasi dengan Gao Jing, pengendali PT Koka Indonesia Tbk (KOKA), guna meredam spekulasi liar di pasar.

Kronologi Perebutan Kendali FITT oleh JRI

Proses pengambilalihan FITT oleh Jinlong dilakukan secara bertahap namun agresif:

  1. Tahap Awal (12 Desember 2025): JRI menyelesaikan akuisisi 48,07% saham (627 juta lembar) dari pemegang saham lama—PT Gloria Inti Nusantara, Hendra Sutanto, dan Richard Suwandi Lie—dengan harga Rp105 per saham.
  2. Pembelian Tambahan (16 Desember 2025): JRI menambah porsi kepemilikannya sebesar 31,08% (405,39 juta lembar) melalui pembelian dari PT Bangun Nusa Cemerlang dan 10 individu lainnya di harga Rp130 per saham.
  3. Total Kepemilikan: Per 31 Desember 2025, Jinlong resmi menguasai 79,16% saham FITT.

Saat ini, melalui MTO, Jinlong membidik sisa 20,84% saham publik. Menariknya, harga tender Rp296 per saham ini jauh di bawah harga pasar yang saat ini berfluktuasi di kisaran Rp700-an. Anomali ini sering dibaca sebagai strategi agar publik tetap menggenggam sahamnya, sehingga Jinlong tidak perlu mengeluarkan dana tambahan dan aturan free float (minimal 7,5% saham publik) tetap terpenuhi agar perusahaan terhindar dari risiko delisting.

Dari Hotel Ke Transportasi Laut 

Arah bisnis FITT di bawah Jinlong sangat jelas yakni Divestasi dan Injeksi. FITT berencana menjual seluruh saham di anak usahanya, PT Bumi Majalengka Permai (pengelola Hotel Fitra) dan PT Fitra Amanah Wisata, senilai total Rp67,25 miliar. Dana segar ini, ditambah struktur permodalan baru, akan digunakan untuk mengakuisisi PT Poseidon Shipping Indonesia (PSI).

PSI adalah perusahaan pelayaran yang sudah memiliki kontrak kerja sama dengan berbagai perusahaan pertambangan. Fokus utamanya adalah pengangkutan bijih nikel dan batu kapur dengan rute operasional utama di wilayah Sulawesi, khususnya jalur Kendari-Langara dan Raha-Baubau. Dengan profil Gao Jinliang yang kuat di Morowali, PSI diproyeksikan akan memiliki pasar yang pasti (captive market) dalam ekosistem pertambangan nikel.

Keputusan PT Hotel Fitra International Tbk (FITT) untuk banting setir ke industri pelayaran bukanlah langkah tanpa perhitungan matang. Berdasarkan Laporan Studi Kelayakan Bisnis yang disusun oleh KJPP Edi Andesta dan Rekan per 3 Februari 2026, rencana penambahan kegiatan usaha ini dinyatakan layak secara finansial, pasar, maupun teknis.

Angka-angka yang disajikan dalam studi kelayakan tersebut menunjukkan optimisme yang sangat tinggi dibandingkan performa bisnis hotel FITT sebelumnya. Parameter utama kelayakan keuangan setelah transaksi menunjukkan nilai Net Present Value (NPV) sebesar Rp361,21 miliar, melonjak drastis dari NPV sebelum transaksi yang hanya berada di angka Rp14,79 miliar. Selain itu, Internal Rate of Return (IRR) diproyeksikan mencapai 38,70%, jauh melampaui tingkat diskonto atau bunga bank komersial. Dengan profil risiko pelayaran yang terukur, perusahaan menargetkan periode pengembalian modal (Payback Period) dalam waktu 8 tahun 9 bulan.

Sebelum menyuntikkan aset baru, FITT harus melakukan "operasi pembersihan" terhadap struktur neracanya. Narasi utama Jinlong adalah melepaskan beban historis yang selama ini menekan laba bersih. FITT secara resmi mengumumkan rencana divestasi hampir 100% kepemilikan pada dua anak usahanya, yaitu PT Bumi Majalengka Permai (BMP) dan PT Fitra Amanah Wisata (FAW).

Detail transaksi divestasi ini mencakup:

  • PT Bumi Majalengka Permai (BMP): Dijual kepada PT Berkarya Bersama Servindo (BBS) senilai Rp21,92 miliar.
  • PT Fitra Amanah Wisata (FAW): Dijual kepada PT Pratama Global Servindo (PGS) senilai Rp45,33 miliar.

Total dana segar yang diraup dari pelepasan bisnis hotel ini mencapai Rp67,25 miliar. Langkah ini sangat krusial karena secara historis, BMP dan FAW terus mencatatkan rugi tahun berjalan selama lima tahun berturut-turut, yang secara otomatis menggerus ekuitas konsolidasian FITT. Penjualan ini sekaligus memutus ketergantungan FITT dalam memberikan dukungan pendanaan (financial support) kepada entitas anak yang tidak produktif tersebut.

Mengapa Pelayaran Nikel Sulawesi?

Arah bisnis FITT di bawah kendali Gao Jinliang berfokus pada pemanfaatan momentum hilirisasi mineral. FITT akan bertransformasi menjadi perusahaan holding dan mengakuisisi PT Poseidon Shipping Indonesia (PSI). PSI diposisikan sebagai ujung tombak logistik untuk komoditas strategis, yakni bijih nikel dan batu kapur.

Pemilihan rute di perairan Sulawesi, khususnya rute Kendari-Langara dan Raha-Baubau, bukanlah tanpa alasan. Sulawesi memegang sekitar 90% cadangan nikel Indonesia yang tersebar di Sulawesi Tengah, Tenggara, dan Selatan. Melalui koneksi Gao Jinliang di kawasan industri nikel Morowali (IHIP/BTIIG), PSI diharapkan memiliki akses pasar yang pasti (captive market) terhadap kebutuhan angkutan barge (tongkang) bagi smelter-smelter raksasa di wilayah tersebut.

Dari sisi teknis, PSI berencana mengoperasikan armada yang terdiri dari 6 unit kapal tongkang dan 1 unit kapal tunda (tug boat). Targetnya, armada ini sudah bisa beroperasi secara komersial penuh pada Juni 2026. Strategi operasional yang diterapkan menggunakan pendekatan Business to Business (B2B) dengan kontrak eksklusif jangka panjang bersama perusahaan pertambangan untuk menjamin kontinuitas pendapatan.

Mitigasi Risiko Menghadapi Badai Probabilitas

Meskipun proyeksi terlihat sangat menjanjikan, manajemen FITT menyadari adanya risiko baru di sektor pelayaran yang jauh berbeda dengan bisnis hotel. Risiko utama yang diidentifikasi meliputi:

  1. Fluktuasi Harga Bahan Bakar: Komponen biaya BBM sangat besar dalam operasional kapal. Perusahaan telah menyiapkan strategi lindung nilai (hedging) melalui kontrak berjangka untuk mengunci biaya energi.
  2. Risiko Cuaca Ekstrem (Topan/Typhoon): Mengingat jalur pelayaran di Sulawesi, perusahaan menerapkan protokol keselamatan ketat dengan pemantauan real-time dari pusat peringatan topan internasional guna meminimalkan gangguan operasional dan kecelakaan laut.
  3. Depresiasi Aset: Kapal merupakan aset dengan laju penyusutan yang tinggi akibat sifat korosif air laut. Perusahaan mengalokasikan manajemen perawatan teknis (ship management) secara disiplin untuk memperpanjang usia ekonomis armada.

Pandangan Strategis Jinlong sebagai Wadah Target Korporasi

Bagi investor seperti Jinlong Resources Investment, akuisisi FITT adalah strategi efisiensi mencatatkan bisnis di bursa (listing effort). Membeli FITT di harga akuisisi awal Rp105 adalah cara termurah untuk mendapatkan status "perusahaan terbuka" yang memiliki tata kelola regulasi yang diakui.

Harga pasar FITT yang kini bertengger jauh di atas harga Mandatory Tender Offer (Rp296 vs Rp700-an) menunjukkan bahwa pasar tidak lagi menilai FITT berdasarkan aset hotelnya di Majalengka, melainkan berdasarkan aset nikel dan batu kapur yang akan diinjeksikan. Ini adalah fenomena klasik di bursa saham Indonesia di mana "saham cangkang" bertransformasi menjadi kendaraan baru bagi grup industri besar untuk melakukan ekspansi modal melalui mekanisme Rights Issue di masa depan.

Memproyeksi Keuangan Masa Depan Dan Riwayat Lampau Saham FITT

Transformasi dari hotel ke pelayaran diproyeksikan akan mengubah warna laporan keuangan FITT dari merah menjadi biru dalam waktu singkat. Berdasarkan proforma posisi keuangan setelah transaksi, total aset lancar FITT diperkirakan meroket 130,82% menjadi Rp119,47 miliar.

Berikut adalah proyeksi kinerja laba rugi konsolidasian pasca transformasi:

  • 2026: Pendapatan diproyeksikan mencapai Rp71,97 miliar dengan laba bersih tahun berjalan mulai menyentuh angka positif Rp1,41 miliar.
  • 2027: Terjadi lonjakan pendapatan menjadi Rp131,94 miliar dengan laba bersih melompat ke angka Rp17,91 miliar.
  • 2028 - 2030: Pendapatan stabil di kisaran Rp131,94 miliar per tahun dengan rata-rata laba bersih tahunan mencapai Rp17,5 miliar.

Secara fundamental, perbaikan ini tercermin pada rasio profitabilitas yang signifikan. Net Profit Margin (NPM) yang sebelumnya selalu negatif, diproyeksikan melonjak hingga 39,39% pada tahun 2027 dan tetap stabil di atas 35% hingga tahun 2030. Rasio utang terhadap ekuitas (DER) juga diproyeksikan turun dari 1,33x menjadi hanya 0,49x pada akhir periode proyeksi, menandakan struktur modal yang semakin sehat karena pelunasan kewajiban dari dana hasil divestasi hotel.

Untuk memahami mengapa akuisisi ini dianggap sebagai aksi backdoor listing atau pembelian "cangkang", investor perlu membedah rapor merah FITT selama satu dekade terakhir. Secara historis, lini bisnis perhotelan FITT terus mengalami tekanan hebat, terutama pasca pandemi.

Berikut adalah ringkasan kinerja fundamental FITT dari tahun ke tahun berdasarkan data laporan keuangan yang dikutip dari keterbukaan Informasi Bursa Efek Indonesia :

TahunPendapatan (Rp)Laba Bersih (Rp)EPS (Rp)ROA (%)ROE (%)Total Utang (Rp)
20188,07 Miliar(4,83 Miliar)-6-10,27-20,4422,62 Miliar
20199,48 Miliar(6,13 Miliar)-11-10,08-16,2321,57 Miliar
20205,39 Miliar(8,54 Miliar)-11-13,87-29,2627,58 Miliar
20218,75 Miliar(5,42 Miliar)-6-8,15-14,2325,61 Miliar
202210,49 Miliar(5,99 Miliar)-6-9,68-16,9524,52 Miliar
202311,83 Miliar(7,35 Miliar)-10-12,73-26,1327,80 Miliar
202411,29 Miliar(8,55 Miliar)-12-7,60-10,0331,49 Miliar
Q1-20251,91 Miliar(2,69 Miliar)----

Dari data tersebut diatas, FITT belum pernah mencetak laba bersih (EPS positif) setidaknya dalam tujuh tahun terakhir. Kerugian bahkan cenderung membengkak mencapai Rp8,55 miliar pada akhir 2024. Net Profit Margin (NPM) perusahaan selalu berada di zona negatif yang dalam, mencerminkan bahwa beban operasional dan beban bunga jauh melampaui pendapatan dari hotel. Operating Cashflow FITT secara konsisten mencatatkan angka minus, yang berarti aktivitas operasional hotel justru menguras kas perusahaan daripada menghasilkannya. 

Meskipun rasio DER sempat berada di bawah 1 kali pada 2024 (0,69x), utang perusahaan terus merangkak naik hingga menembus Rp31,49 miliar pada tahun tersebut.

Kondisi fundamental yang "sakit" inilah yang membuat FITT menjadi target ideal untuk aksi korporasi Jinlong. Bagi JRI, FITT adalah kendaraan publik yang sudah terdaftar (shell company). Dengan menyuntikkan aset pelayaran (PSI) yang sehat dan mendivestasi aset hotel yang merugi, Jinlong secara instan mengubah profil risiko dan potensi profitabilitas emiten ini.

Dari Stock Story Ke Sentimen Market 

Memasuki periode Penawaran Tender Wajib (MTO), pergerakan saham FITT menunjukkan volatilitas yang sangat tinggi. Meskipun harga penawaran ditetapkan di Rp296, kekuatan pasar justru mendorong harga jauh melampaui angka tersebut.

Berikut Ringkasan Data Transaksi Saham FITT

  • 5 Februari 2026: Saham dibuka di harga Rp665 dan ditutup meroket 24,30% ke level Rp665 (batas ARA pada sesi tersebut). Volume perdagangan meledak hingga 19,93 juta saham.
  • 6 Februari 2026: Tren penguatan berlanjut. FITT melonjak 10,53% dan ditutup pada harga Rp735 dengan volume 15,79 juta saham.
  • 9 Februari 2026: Terjadi koreksi teknis sebesar 6,80% ke level Rp685. Investor mulai melakukan aksi ambil untung (profit taking).
  • 10 Februari 2026: Saham kembali bangkit, menguat 8,03% ke level Rp740 dengan volume perdagangan mencapai 12,92 juta saham.

Selama periode 5-10 Februari 2026, aktivitas perdagangan didominasi oleh minat spekulatif yang tinggi. Munculnya harga MTO Rp296 yang terdiskon sekitar 29,52% dari harga pasar saat itu (Rp420 pada awal pengumuman) justru dianggap pasar sebagai sinyal bahwa pengendali baru tidak ingin menyerap saham publik secara paksa.

Investor ritel dan beberapa institusi lokal tampak aktif melakukan akumulasi, bertaruh pada narasi "Injeksi Aset Nikel" yang akan dibawa oleh Gao Jinliang. Volume rata-rata harian yang biasanya sepi kini melonjak di atas 10-15 juta lembar saham, menandakan likuiditas yang kembali cair setelah sekian lama FITT menjadi saham "tidur".

Gelombang Teknikal Saham FIT

Berdasarkan parameter teknikal harian yang dikutip dari Investing.com per 11 Februari 2026, mayoritas indikator memberikan sinyal sebagai berikut : 

  1. Rata-Rata Bergerak (Moving Average): Harga FITT saat ini berada jauh di atas MA50 (Rp586,70) dan MA200 (Rp528,65), yang secara teknis mengonfirmasi tren bullish jangka menengah hingga panjang. Meskipun MA5 memberikan sinyal jual jangka pendek di Rp731, tren utama tetap solid ke atas.
  2. Relative Strength Index (RSI): Indikator RSI berada pada level 58,034 (beberapa sumber menyebut 70,17), yang menunjukkan saham berada dalam zona penguatan namun belum sepenuhnya jenuh beli (overbought).
  3. MACD: Indikator MACD berada di angka 47,552, memberikan sinyal beli yang kuat bagi trader pengikut tren.
  4. Pivot Point (Fibonacci): Level resistance terdekat berada pada Rp745 (R1), diikuti oleh Rp779 (R2), dan Rp801 (R3). Jika FITT mampu menembus level psikologis Rp835, saham ini berpotensi kembali menguji level tertinggi sepanjang masanya.

Kesimpulan

Akuisisi FITT oleh Gao Jinliang melalui Jinlong Resources Investment adalah manuver backdoor listing yang terencana dengan sangat rapi. Dengan membuang beban bisnis perhotelan yang merugi dan menyuntikkan unit bisnis pelayaran di sektor hilirisasi mineral yang sedang booming, FITT telah bertransformasi dari emiten "sekarat" menjadi kendaraan investasi yang agresif. Meskipun harga pasar saat ini terlihat sangat mahal secara fundamental lama, pasar nampaknya lebih percaya pada "tangan dingin" pengendali baru dalam menggarap potensi nikel Indonesia. (*)

Penulis

Avatar

SW. Razak

Praktisi pasar modal dan forex dengan latar belakang kuat di analisis data selama 15 tahun. Mengembangkan dan mengeksekusi strategi investasi serta trading berbasis data, membangun model kuantitatif, melakukan backtesting, optimasi risiko, dan evaluasi performa portofolio secara disiplin.

Disclaimer

Konten ini disusun untuk knowladge. Setiap analisis atau opini yang disampaikan merupakan pandangan pribadi penulis berdasarkan referensi yang tersaji secara publik. Dapat di jadikan sebagai opini kedua sebelum memutuskan mengambil keputusan investasi. Namun tidak ada jaminan atas keakuratan atau hasil yang ditimbulkan. Anda tetap perlu melakukan riset independen sebelum mengambil keputusan investasi.