Eksplorasi analisis, insight, dan informasi terkini dari Cuantara.com.
Sektor barang konsumsi selalu menjadi tempat aman bagi investor ritel Indonesia. Alasannya sederhana, orang tetap makan, tetap minum, dan tetap belanja. Tapi di tengah pasar yang makin pintar dan valuasi yang semakin mahal, tidak semua saham konsumer lagi-lagi bisa dianggap “aman”. Tiga nama besar yang selama ini jadi langganan portofolio investor yakni Cisarua Mountain Dairy (CMRY), Mayora Indah (MYOR), dan Charoen Pokphand Indonesia (CPIN). Kini tampil dengan wajah yang berbeda. Ketiganya masih menguasai benak pasar, namun angka-angka menunjukkan dinamika yang menarik: siapa yang masih menawarkan value, siapa yang hanya menawarkan pertumbuhan mahal? Mari kita bedah satu per satu dengan kacamata dua legenda value investing ala Warren Buffett dan Peter Lynch. Analisa ini juga dilengkapi perbandingan data fundamental 3 emiten tersebut
IHSG sering naik, tapi banyak investor tetap rugi. Artikel ini membedah alasan sebenarnya dengan data BEI, KSEI, OJK, dan studi perilaku investor. Disajikan dengan gaya analitis dan bahasa manusiawi khas Cuantara.
Investasi di pasar modal bukan hanya soal memilih saham yang bagus. Setiap transaksi beli atau jual juga memerlukan biaya layanan yang dikenal sebagai fee broker. Ketika kamu menjadi nasabah perusahaan sekuritas, ada beberapa komponen biaya yang harus dibayar. Biaya-biaya ini dapat memengaruhi hasil akhir investasi, sehingga memahami struktur dan besaran biaya sangat penting sebelum melakukan transaksi. Modul ini akan membahas komponen utama biaya broker di pasar modal Indonesia, alasan di balik setiap komponen, variasi tarif di berbagai sekuritas, serta dampaknya terhadap strategi investasi rill.
Rekening Dana Nasabah (RDN) adalah pintu masuk utama bagi siapa pun yang ingin berinvestasi di pasar modal Indonesia. Melalui RDN, setiap aliran dana investor dipisahkan dari rekening operasional sekuritas, sehingga lebih aman, transparan, dan sesuai aturan OJK. RDN tidak hanya menjadi syarat administratif, tetapi juga pondasi hukum untuk melindungi aset investor sekaligus memastikan transaksi efek tercatat resmi di sistem KSEI. Dengan memahami fungsi, proses pembukaan, hingga mekanisme penggunaan RDN, kamu bisa lebih percaya diri saat mulai membeli saham, obligasi, reksa dana, atau instrumen pasar modal lainnya.
Pasar modal bekerja melalui sistem yang terstruktur dan terstandar. Setiap transaksi saham yang terjadi di Bursa Efek Indonesia (BEI) tidak berhenti pada tahap order beli dan jual saja, melainkan melalui serangkaian proses panjang yang memastikan kepemilikan dan dana berpindah secara sah. Rangkaian itu meliputi order, matching, kliring, hingga penyelesaian (settlement). Keempat tahap ini dijalankan dalam koordinasi tiga lembaga utama: BEI, KPEI (Kliring Penjaminan Efek Indonesia), dan KSEI (Kustodian Sentral Efek Indonesia).
Dalam pasar modal, istilah T+ settlement merujuk pada waktu penyelesaian (settlement) transaksi efek yang terjadi beberapa hari setelah tanggal (T) transaksi. Di Indonesia, saat ini yang berlaku adalah T+2 artinya penyelesaian terjadi dua hari bursa setelah transaksi dilakukan. Modul ini menjelaskan secara runut dan terstruktur mengenai mekanisme T+ settlement serta relevansinya di pasar modal Indonesia. Bahasa yang digunakan aktif, cocok untuk generasi Z dan Alpha, meski target utama pembaca adalah usia 25–60 tahun. Setiap istilah teknis akan dijelaskan sesegera mungkin dalam kalimat berikutnya. Tidak ada opini, asumsi, atau preferensi pribadi dalam konten ini.
Pasar modal Indonesia memiliki tiga lembaga utama yang mengatur, menjamin, dan mencatat setiap transaksi efek. Bursa Efek Indonesia (BEI), Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI), dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI). Ketiganya berstatus Self-Regulatory Organization (SRO) di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). BEI berperan menyelenggarakan perdagangan efek, KPEI bertugas mengkliring sekaligus menjamin penyelesaian transaksi, dan KSEI menangani penyimpanan serta pemindahbukuan efek.
Screening saham seringkali memberikan hasil yang kelihatan ekstrem, namun tidak semua angka luar biasa itu mencerminkan peluang. Modul ini mengajarkan cara menyaring outlier tanpa perlu metode statistik kompleks seperti Z-Score atau IQR. Cukup gunakan pendekatan rasional: bandingkan rasio emiten dengan rata-rata sektornya, gunakan batas praktis ±50%, cek tren historis 3–5 tahun, dan kombinasikan 2–3 rasio utama sebagai filter. Gunakan median untuk menangkal distorsi akibat data ekstrem. Hasil screening yang efektif bukan tentang mencari angka paling “ajaib”, tetapi menemukan saham yang masuk akal dalam konteks sektoral dan konsisten kinerjanya.
Dalam dunia investasi saham, investor dihadapkan pada banjir data – mulai dari indikator fundamental perusahaan hingga sinyal teknikal pergerakan harga. Namun, tidak semua data tersebut memberikan “signal” yang berguna. Banyak di antaranya hanyalah “noise” atau gangguan belaka. Istilah “Angka Tipu-Tipu” dapat digunakan untuk menyebut angka-angka atau metrik yang terlihat spektakuler dalam hasil screening data, tetapi sebenarnya menyesatkan dan tidak berkelanjutan. Investor perlu waspada terhadap jebakan angka seperti ini agar tidak mengambil keputusan yang keliru.Modul ini akan membahas beberapa contoh kasus dimana data hasil screening fundamental maupun teknikal, ternyata menipu (noise) alih-alih memberi signal yang valid. Kita akan mengulas penyebab munculnya jebakan “angka tipu-tipu”, motif di balik fenomena tersebut, serta jenis data apa saja yang sering mengandung jebakan demikian. Tujuannya adalah memberikan pemahaman bahwa tidak semua output screening data layak ditindaklanjuti; investor perlu memilah mana data yang benar-benar signal dan mana yang sebaiknya diabaikan sebagai noise. Semuanya disajikan berdasarkan data, riset, fakta, serta kondisi nyata di Pasar Modal Indonesia – tanpa opini atau preferensi pribadi.
Pasar saham Indonesia menyediakan ribuan saham dengan variabel finansial yang beragam. Screener membantu kamu memilah saham berdasarkan kriteria tertentu dan menampilkan daftar kandidat yang memenuhi kriteria tersebut. Namun hasil screener bukanlah daftar beli; kamu perlu memahami makna peringkat, skor, dan metrik yang ditampilkan. Artikel ini memberikan panduan menyeluruh untuk membaca hasil screener secara efektif, menafsirkan setiap metrik dengan konteks, dan menentukan mana yang relevan untuk strategi investasi di Bursa Efek Indonesia (BEI). Dengan memahami data ini, kamu dapat memanfaatkan screener sebagai alat analisis, bukan sekadar generator daftar saham.
Berburu saham yang memiliki momentum kuat bukan sekadar menatap angka di layar. Pasar modal Indonesia terdiri dari ratusan saham dengan volatilitas, likuiditas, dan tingkat pertumbuhan yang beragam. Dalam kondisi seperti itu, pendekatan teknikal membantu kamu mengidentifikasi saham yang momentum harganya sedang meningkat sehingga potensi keuntungan lebih besar. Screening teknikal menggunakan filter berbasis data untuk menyaring saham berdasarkan pergerakan harga, volume, indikator momentum, serta posisi relatif terhadap rata‑rata bergerak. Artikel ini menjelaskan setiap filter teknikal utama yang sering digunakan dalam screener, menjabarkan parameter rill, memberikan konteks di balik angka, dan menyesuaikannya dengan realitas Bursa Efek Indonesia (BEI).
Di pasar yang dipenuhi ratusan emiten, memilih saham yang benar-benar layak dibeli seringkali membingungkan. Tidak sedikit investor tergoda membeli saham hanya karena harganya tampak rendah, padahal nilai wajarnya jauh di bawah ekspektasi. Di sinilah pentingnya screening valuasi sebuah pendekatan sistematis yang digunakan investor legendaris seperti Lo Kheng Hong untuk menemukan saham dengan harga di bawah nilai intrinsiknya. Bagian ini menyajikan panduan lengkap cara menyaring saham undervalued di Bursa Efek Indonesia menggunakan rasio keuangan seperti PER, PBV, ROE, hingga Margin of Safety (MoS). Kamu akan mempelajari parameter apa saja yang digunakan, mengapa angka tertentu dianggap sebagai ambang "murah", dan bagaimana menghindari jebakan value trap. Dengan pendekatan berbasis data dan praktik investor institusi, kamu bisa membangun portofolio kuat tanpa harus menebak arah pasar.